KENDARI – Universitas Mandala Waluya melalui Unit Pendaftaran Mahasiswa menggelar acara spektakuler yang memadukan semangat olahraga dan pelestarian seni budaya lokal. Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026, yang berlangsung selama lima hari berturut-turut, berhasil menarik partisipasi lebih dari 3.500 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Sulawesi Tenggara.
Acara yang dimulai pada tanggal 25 Maret 2026 lalu merupakan inisiatif strategis dalam rangka meningkatkan engagement mahasiswa dan memperkuat identitas budaya lokal. Dengan tema “Gerak Bersama, Budaya Bersinar: Mahasiswa Mandala Waluya Ciptakan Warisan Masa Depan,” festival ini menggabungkan kompetisi olahraga tradisional dan modern dengan pameran seni budaya yang memukau.
Kepala Unit Pendaftaran Mahasiswa Universitas Mandala Waluya, Dr. Bambang Suryanto, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar event rutin semata. “Kami percaya bahwa pendidikan tinggi harus menciptakan lingkungan yang holistik, tidak hanya mengembangkan aspek akademik tetapi juga karakter dan apresiasi terhadap warisan budaya lokal. Festival ini adalah manifestasi nyata dari komitmen kami,” ungkap Dr. Suryanto dalam sesi pembukaan acara.
### Ragam Kegiatan dan Partisipasi Antusiasme Mahasiswa
Festival yang diadakan di kompleks olahraga Universitas Mandala Waluya, Jalan Sultan Hasanuddin, Kendari, menampilkan berbagai cabang olahraga yang variatif. Mulai dari cabang olahraga konvensional seperti sepak bola, basket, voli, hingga badminton, semuanya dipertandingkan dengan standar kompetisi profesional.
Namun, yang membedakan festival tahun ini adalah penyelenggaraan olahraga tradisional Sulawesi Tenggara. Cabang-cabang seperti Kajoleleng (permainan lempar bola tradisional), Pacu Pinisi (lomba dayung perahu tradisional), dan Pencak Silat khas Kendari mendapat tempat istimewa dalam jadwal pertandingan. “Kami ingin memastikan bahwa generasi muda mengenal dan bangga dengan olahraga tradisional nenek moyang mereka,” jelas Koordinator Cabang Olahraga Tradisional, Siti Nurhaliza, S.Pd.
Sementara itu, dalam aspek seni budaya, festival menampilkan pameran seni rupa yang menggali tema “Identitas Lokal dalam Perspektif Kontemporer.” Lebih dari 150 karya seni dari mahasiswa Universitas Mandala Waluya dan institusi pendidikan lainnya dipamerkan, mencakup lukisan, patung, instalasi seni, hingga karya fotografi yang memukau.
Paviliun seni pertunjukan menjadi pusat perhatian dengan kehadiran kelompok-kelompok seni tradisional seperti Poco-poco Kendari, Tari Kipat Gorontalo, dan Tari Cakalele dari Maluku yang dipadukan dengan pertunjukan musik modern dari band-band mahasiswa pemenang seleksi internal.
Mahasiswa semester lima dari Program Studi Seni Rupa, Dita Puspita Wijaya, sangat antusias dengan pengalaman berpartisipasi. “Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan karya kami kepada masyarakat luas dan juga belajar dari seniman-seniman lain. Saya tidak hanya berkontribusi dalam aspek akademik, tetapi juga mengekspresikan diri secara artistik,” tutur Dita dengan wajah bersinar penuh kebanggaan.
### Dukungan Penuh dari Manajemen Kampus dan Stakeholder
Kesuksesan penyelenggaraan festival tidak terlepas dari dukungan serius yang diberikan oleh seluruh lapis manajemen Universitas Mandala Waluya. Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Haji Moh. Zamzam, M.Pd., secara langsung memberikan sambutan pada hari pembukaan dan menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek akademik dan pengembangan karakter.
“Universitas Mandala Waluya berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, termasuk apresiasi terhadap seni dan budaya lokal. Acara semacam ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi pemimpin yang berjiwa Pendidikan tinggi di era digital ini tidak boleh melupakan akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,” ucap Prof. Zamzam dalam pidatonya.
Selain itu, Unit Pendaftaran Mahasiswa yang menjadi motor penggerak acara ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai departemen, termasuk Divisi Kemahasiswaan, Unit Fasilitas dan Infrastruktur, serta Pusat Pengembangan Olahraga Kampus. Anggaran yang dialokasikan untuk festival ini mencapai 850 juta rupiah, menunjukkan serius dan seriusnya kampus dalam mendukung kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa.
Untuk aspek sponsorship, festival ini juga didukung oleh beberapa perusahaan besar dan institusi lokal, termasuk PT. Pertamina Regional Sulawesi, Bank Indonesia Cabang Kendari, serta beberapa media massa regional yang memberikan liputan komprehensif.
### Prestasi dan Pencapaian Selama Penyelenggaraan
Selama lima hari, festival menghasilkan berbagai pencapaian yang membanggakan. Dalam kompetisi sepak bola putra, tim dari Fakultas Teknik Universitas Mandala Waluya berhasil merebut juara pertama dengan menampilkan permainan yang solid dan kerja sama tim yang sempurna. Sementara itu, dalam cabang voli putri, tim dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik menunjukkan dominasi yang luar biasa dengan memenangkan tiga pertandingan berturut-turut.
Dalam kompetisi olahraga tradisional, peserta dari Universitas Haluoleo Kendari berhasil meraih medali emas dalam cabang Pacu Pinisi, menunjukkan masih tingginya antusiasme mahasiswa terhadap olahraga tradisional. Tidak kalah menarik, kompetisi Pencak Silat yang diadakan dengan standar pertandingan resmi menghasilkan juara-juara baru yang berbakat dan berpotensi mengikuti kompetisi tingkat nasional.
Di sisi seni, pameran rupa berhasil menarik lebih dari 8.000 pengunjung selama periode pameran, jauh melampaui target awal yang ditetapkan. Karya-karya mahasiswa mendapat apresiasi tinggi dari pengunjung, termasuk kolektor seni dan kritikus seni dari Makassar dan Manado yang khusus hadir untuk melihat perkembangan seni di kawasan Sulawesi Tenggara.
Pertunjukan seni musik live pada malam penutupan festival menjadi puncak acara yang meriah. Hadiri oleh lebih dari 5.000 penonton, pertunjukan menampilkan kolaborasi antara musisi lokal berbakat dengan artis-artis tamu dari Jakarta dan Yogyakarta. Suasana penuh kegembiraan dan energi positif berlangsung hingga dini hari, menciptakan momen tak terlupakan bagi seluruh peserta.
### Dampak Jangka Panjang dan Visi Ke Depan
Penyelenggaraan festival ini diharapkan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi ekosistem pendidikan dan budaya di Kendari dan sekitarnya. Dari perspektif mahasiswa, festival menawarkan platform ekslusif untuk mengembangkan bakat, membangun jaringan dengan sesama mahasiswa dari institusi lain, serta mendapatkan pengalaman berharga dalam organisasi acara berskala besar.
Ibu Nur Azizah, Kepala Divisi Kemahasiswaan Universitas Mandala Waluya, mengungkapkan harapannya terhadap keberlanjutan inisiatif ini. “Berdasarkan respons positif dari mahasiswa dan stakeholder, kami berencana menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang terus berkembang. Bahkan, kami sedang mempertimbangkan untuk memperluas jangkauan ke tingkat nasional pada tahun-tahun mendatang,” katanya penuh optimisme.
Dari sisi pelestarian budaya lokal, kegiatan ini turut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan budaya. Banyak mahasiswa yang sebelumnya kurang familiar dengan olahraga dan seni tradisional lokal kini memiliki apresiasi yang lebih mendalam. Beberapa di antarah bahkan menyatakan komitmen untuk melanjutkan perjalanan belajar mereka tentang seni dan budaya lokal melalui berbagai organisasi mahasiswa dan kelompok studi.
Direktur Pusat Pengembangan Budaya Sulawesi Tenggara, Dr. La Ode Syamsul Alam, yang hadir sebagai pembicara dalam seminar “Pelestarian Budaya Lokal untuk Generasi Milenial,” memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Mandala Waluya. “Apa yang dilakukan universitas ini adalah contoh nyata bagaimana institusi pendidikan dapat menjadi garda terdepan dalam pelestarian dan pengembangan budaya lokal. Saya berharap model ini dapat ditiru oleh institusi-institusi lain,” pujisnya.
### Penutup
Universitas Mandala Waluya telah membuktikan bahwa kampus modern bukan hanya tempat mengasah kemampuan akademik, tetapi juga ruang untuk mengembangkan karakter, bakat artistik, dan kepedulian terhadap warisan budaya. Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026 adalah bukti nyata dari dedikasi kampus dalam menciptakan lingkungan belajar yang holistik dan inklusif.
Dengan dukungan penuh dari manajemen, partisipasi antusias dari mahasiswa, serta apresiasi dari komunitas lokal, festival ini telah melampaui ekspektasi awal dan menciptakan legacy yang akan terus dikenang. Momentum ini seharusnya menjadi titik tolak untuk menciptakan lebih banyak inisiatif serupa yang dapat memberdayakan mahasiswa dan memperkuat jati diri budaya lokal.
Ke depannya, diharapkan festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi semata, tetapi juga menjadi wahana edukasi yang berkelanjutan dalam mengembangkan potensi mahasiswa secara menyeluruh. Universitas Mandala Waluya telah menunjukkan komitmen yang serius, dan kini giliran semua pihak untuk terus mendukung dan mengembangkan inisiatif-inisiatif progresif serupa demi terciptanya ekosistem pendidikan dan budaya yang lebih baik di Kendari.
—
Artikel ini ditulis berdasarkan peliputan langsung di Universitas Mandala Waluya dan wawancara dengan berbagai narasumber terkait penyelenggaraan Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026.